
Batu layar– Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus mendorong kawasan wisata Senggigi kembali ramai dan Senggigi kembali ramai dan semakin menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui rebranding Festival Senggigi menjadi Senggigi Sunset Show, yang digelar di Amphitheater Pasar Seni Senggigi, Sabtu malam (19/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Sambutannya, Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha mengatakan, perubahan konsep dan nama kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali geliat pariwisata Senggigi sekaligus memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah.
“Mudah-mudahan ini menandakan destinasi wisata di Senggigi terus bangkit, terus lebih baik menjadi tempat yang sangat nyaman untuk tamu-tamu, khususnya tamu mancanegara dan tamu domestik kita,” ujarnya
Menurutnya, keramaian Senggigi tidak boleh berhenti sebatas banyaknya pengunjung. Aktivitas pariwisata harus mampu meningkatkan tingkat hunian hotel, memperpanjang lama tinggal wisatawan, sekaligus memberikan dampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut, kawasan Senggigi pada malam pelaksanaan kegiatan terlihat ramai, termasuk sepanjang perjalanan dari wilayah Batulayar hingga Senggigi.
“Kita berharap tidak hanya sekadar ramai, tetapi keramaian Senggigi ini menandakan Senggigi luar biasa. Senggigi tetap menjadi alternatif yang paling indah di Lombok,” katanya.
Ummi Nurul juga menekankan pentingnya menjaga keamanan, kenyamanan dan kebersihan kawasan agar Senggigi tetap menjadi destinasi yang dirindukan wisatawan.
Ia meminta perangkat daerah terkait memperkuat dukungan terhadap kawasan wisata, mulai dari kebersihan lingkungan, penerangan jalan, kesiapan layanan kesehatan hingga penguatan UMKM.
“Saya yakin masyarakat Lombok Barat siap semua menghadirkan Senggigi yang nyaman dan penuh kedamaian yang dirindukan oleh dunia,” tegasnya.
Lebih jauh, Ummi Nurul menegaskan bahwa keberhasilan Senggigi Sunset Show tidak cukup diukur dari tingkat keramaian. Kegiatan pariwisata harus memiliki keterkaitan langsung dengan sektor ekonomi lainnya, terutama pertanian, kelautan dan perikanan, peternakan serta UMKM.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut harus menjadi bagian dari ekosistem pariwisata Senggigi sehingga meningkatnya kunjungan wisatawan dan okupansi hotel turut meningkatkan penyerapan produk lokal.
“Kita berharap ramainya Senggigi, ramainya tingkat hunian hotel-hotel kita harus ada hubungannya dengan pertanian supaya hasil pertanian kita diserap juga oleh pelaku-pelaku usaha wisata yang ada di Senggigi ini,” jelasnya.
Ia mendorong adanya koordinasi yang lebih erat antara perangkat daerah dengan pengelola hotel dan pelaku usaha pariwisata. Produk pertanian, hasil kelautan dan perikanan, serta hasil peternakan masyarakat Lombok Barat diharapkan dapat masuk dan terserap oleh kebutuhan hotel maupun usaha kuliner di kawasan Senggigi.
Dengan demikian, geliat pariwisata tidak hanya menciptakan keramaian di destinasi, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi masyarakat dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Kepala Dinas Parekrafpora Lobar, Agus Gunawan, menjelaskan bahwa Senggigi Sunset Show merupakan rebranding dari Festival Senggigi dengan konsep yang diarahkan pada peningkatan kualitas event dan daya tarik kawasan.
Menurutnya, Festival Senggigi sebelumnya lebih diarahkan untuk menghibur wisatawan pada periode high season hingga sekitar Agustus. Sementara Senggigi Sunset Show hadir dengan konsep yang lebih berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak unsur ekonomi lokal.
“Kita rebranding ini dalam rangka tentu peningkatan kualitas event,” katanya
Peningkatan kualitas tersebut antara lain dilakukan dengan melibatkan UMKM, termasuk pelaku usaha yang berasal dari hotel-hotel di kawasan Senggigi.
Selain itu, materi pertunjukan juga disesuaikan dengan karakter dan minat pengunjung berdasarkan hasil survei terhadap kegiatan sebelumnya.
Agus menambahkan, Senggigi Sunset Show juga menjadi bagian dari strategi road to MotoGP, mengingat Lombok akan kembali menjadi perhatian wisatawan menjelang penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika.
Ia menyebut sejumlah hotel di kawasan Senggigi mulai menunjukkan peningkatan pemesanan kamar menjelang ajang tersebut. Kondisi ini diharapkan terus meningkat hingga tingkat hunian hotel mencapai kapasitas maksimal.
“Ini kita harapkan menjadi bagian dari road to MotoGP. Mereka yang datang nantinya bisa menikmati Senggigi sambil menunggu kegiatan MotoGP berlangsung,” jelasnya.
Agus menegaskan, arahan Wabup untuk menghubungkan sektor pariwisata dengan pertanian, UMKM, serta kelautan dan perikanan akan segera ditindaklanjuti.
Pihaknya akan membangun koordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), para general manager hotel dan perangkat daerah terkait untuk mengidentifikasi serta mengkurasi produk lokal yang memenuhi standar kebutuhan hotel.
“Jadi tidak hanya dari okupansi tamu, tetapi kualitas pangan dan produk lokal kita juga harus bisa diserap oleh hotel,” ujarnya.
Penulis : H. Rizky/Juan
Editor : Achmad Sahib
Sumber Berita : Diskominfo tik












