Kisah Zia, Siswi MTs di Lombok Timur yang Bertahan Hidup dari Upah Buruh Cuci

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ziadatun Nisa. (Foto: Istimewa).

Ziadatun Nisa. (Foto: Istimewa).

LOMBOK TIMUR – Keterbatasan ekonomi memaksa Ziadatun Nisa (14) menjalani hidup keras seorang diri. Siswi kelas 3 MTs Nawarul’uyun NW Serumbung, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, itu kini tinggal di rumah bambu tanpa kasur.

Ia hanya beralaskan tikar tipis yang dingin menusuk tulang setiap malam sepeninggal neneknya yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.

Upah Cuci, Jadi Andalan untuk Makan dan Sekolah

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk menyambung hidup sekaligus membiayai sekolah, Zia, sapaan akrabnya, menggantungkan harapan pada upah mencuci pakaian dan piring milik tetangga. Ia mendatangi rumah demi rumah menawarkan jasa cuci dengan tarif Rp3.000 setiap kali mencuci.

Baca Juga :  Wakil Bupati dan Kejaksaan Lombok Timur Pastikan Bantuan Sembako Rp 40 Miliar Tepat Sasaran

Uang hasil keringat itu ia belikan nasi bungkus untuk mengisi perut, sedangkan sisanya ia sisihkan untuk membeli buku tulis dan pensil.

“Upahnya Rp 3.000 setiap kali mencuci. Saya pakai untuk beli nasi bungkus, sisanya saya tabung untuk beli buku dan pensil,” ujar Zia dengan tatapan tegar, Selasa 11 Agustus 2026.

Pura-Pura Baca Buku Saat Teman-Teman ke Kantin

Rasa malu karena tak memiliki uang jajan kerap mengurung Zia di kursinya saat jam istirahat berganti. Ketika teman-temannya berduyun ke kantin, Zia berpura-pura asyik membaca buku atau mengerjakan tugas untuk menutupi keterbatasannya.

Baca Juga :  Luthfi-Wahid Siapkan Program Unggulan Rp 1 Miliar 1 Desa, Wujudkan Lombok Timur Maju dan Harmonis

Hingga kini, ia belum mampu melengkapi seragam putihnya. Setiap pagi, Zia hanya mengenakan satu rok biru, memakai sandal jepit, dan menenteng tas usang peninggalan almarhumah neneknya yang resletingnya sering macet.

Beban Zia tidak berhenti di rumah. Ancaman nyata juga menghantuinya di sekolah. Puing-puing genteng berhamburan di ruang kelas yang telah ditempatinya selama dua tahun terakhir.

Ziadatun Nisa (14), siswi MTs Lombok Timur, bertahan dari upah cuci Rp3.000 per pakaian sepeninggal neneknya. Di rumah bambu tanpa kasur, ia pura-pura baca buku saat teman ke kantin. Atap kelasnya ambruk dua tahun. Jelang lulus, ia berharap ruang baru dan rumah layak bagi adik kelasnya.
Ziadatun Nisa dan teman-teman sekelasnya menyimak penjelasan guru di ruang kelas yang atapnya nyaris ambruk. Menjelang kelulusan, siswi MTs itu berharap ada ruang baru yang layak bagi adik-adik kelasnya. (Foto: Istimewa)

Atap yang rapuh itu nyaris roboh dan mengancam keselamatan siapa pun yang beraktivitas di dalamnya.

“Setiap belajar, saya sering menoleh ke atas, takut gentengnya jatuh menimpa. Sudah hampir dua tahun kami belajar di kelas yang sewaktu-waktu atapnya bisa ambruk,” tuturnya.

Baca Juga :  Fokus di Dua Desa, Akhirnya Program TMMD Ke-121 Kodim 1615 Lotim Tuntas 100 Persen 

Harapan Zia: Kelas Baru, Seragam Lengkap, dan Rumah Layak Huni

Meskipun akan segera lulus dari MTs, Zia tetap menyimpan harapan besar agar sekolahnya segera mendapat bantuan perbaikan. Ia tidak ingin adik-adik kelasnya merasakan kecemasan yang sama saat menuntut ilmu.

“Mimpi saya ingin punya ruang kelas yang bagus. Kalaupun saya sudah kelas 3, minimal adik-adik kelas nanti bisa merasakan sekolah dengan kelas yang baru dan nyaman untuk belajar,” harap Zia.

Selain ruang kelas, ia juga memimpikan seragam yang lengkap, sepatu baru, serta renovasi rumah bambunya agar layak huni. ***

Penulis : Royan

Editor : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Kurangi Peran “Joki” Sertifikat, ATR/BPN Hadirkan MasNya untuk Edukasi Warga di TikTok
Dinsos Lotim Buka Pengaduan Data Perlinsos hingga Desember, Warga Bisa Sanggah Desil
Terobosan BPN: 17 Kantah Terapkan PERINTIS 10 Hari, Warga Samarinda Bisa Ambil Sertipikat Lebih Cepat dari Jadwal
Hasbi Kades Kuripan’ Induk: Visi Misi Hanya Retorika, Masyarakat Menunggu Ekspektasi
Alami Kecelakaan, Pendaki Rinjani Asal Cina Di Evakuasi Tim SAR Gabungan
Empat Tahun Hidup Bersama Psoriasis Setelah Vaksin Ketiga Covid-19, di Mana Tanggung Jawab Negara?
FWMO Lotim Gelar Diskusi : Wartawan Harus Berimbang, Akurat, dan Bertanggung Jawab
Di Wisuda Politeknik Agraria STPN, Sri Sultan Tekankan: Ilmu Pertanahan Harus Menghubungkan Peta, Manusia, dan Martabat
Berita ini 86 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:25 WIB

Kurangi Peran “Joki” Sertifikat, ATR/BPN Hadirkan MasNya untuk Edukasi Warga di TikTok

Jumat, 18 September 2026 - 11:05 WIB

Dinsos Lotim Buka Pengaduan Data Perlinsos hingga Desember, Warga Bisa Sanggah Desil

Kamis, 17 September 2026 - 18:03 WIB

Terobosan BPN: 17 Kantah Terapkan PERINTIS 10 Hari, Warga Samarinda Bisa Ambil Sertipikat Lebih Cepat dari Jadwal

Rabu, 16 September 2026 - 14:26 WIB

Hasbi Kades Kuripan’ Induk: Visi Misi Hanya Retorika, Masyarakat Menunggu Ekspektasi

Selasa, 15 September 2026 - 20:52 WIB

Alami Kecelakaan, Pendaki Rinjani Asal Cina Di Evakuasi Tim SAR Gabungan

Selasa, 15 September 2026 - 11:37 WIB

Empat Tahun Hidup Bersama Psoriasis Setelah Vaksin Ketiga Covid-19, di Mana Tanggung Jawab Negara?

Selasa, 8 September 2026 - 12:31 WIB

FWMO Lotim Gelar Diskusi : Wartawan Harus Berimbang, Akurat, dan Bertanggung Jawab

Senin, 7 September 2026 - 16:09 WIB

Di Wisuda Politeknik Agraria STPN, Sri Sultan Tekankan: Ilmu Pertanahan Harus Menghubungkan Peta, Manusia, dan Martabat

Berita Terbaru