Kejagung Mulai Panen Koruptor

- Jurnalis

Jumat, 7 Maret 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rosadi Jamani

Lho tak tengok tumpukkan uang yang dipamerkan Jampidsus Kejagung, tadi. Bergepok-gepok uang macam bukit. Banyaknye duit, wak. Hanya bisa geleng-geleng kepala, betapa parahnya korupsi di negeri ini.

Baru juga kita terkesima dengan angka Rp 193,7 triliun dari kasus korupsi Pertamina, Kejaksaan Agung kembali bikin heboh dengan dugaan korupsi impor gula. Sepertinya ini musim panen koruptor. Bedanya, yang dipanen bukan padi, bukan juga sawit, melainkan oknum-oknum dengan tangan lengket gula, lengket karena manisnya uang haram yang mereka embat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kali ini, kerugian negara akibat impor gula ilegal ini ditaksir mencapai Rp578,15 miliar. Sebuah angka yang, kalau dikonversi ke bentuk fisik, bisa membuat karung-karung beras minder karena kalah besar. Saking banyaknya, mungkin kita bisa bangun jalanan mulus dari Pontianak ke Ketapang, lengkap dengan rest area dan Wi-Fi gratis. Kejagung pun tak main-main.

Baca Juga :  Integrasi Data dan Kepastian Waktu, ATR/BPN Pangkas Celah Penyalahgunaan Sertifikat

Mereka langsung menyita uang senilai Rp565 miliar dari sembilan tersangka. Kalau kita lihat daftar namanya, bukan orang sembarangan. Para bos besar ini. Mereka seharusnya fokus mengelola perusahaan, malah asyik berakrobat di dunia keuangan dengan trik-trik licik yang bikin Robin Hood menyesal lahir di era yang salah.

Salah satu nama yang muncul dalam daftar tersangka adalah Thomas Trikasih Lembong, mantan Menteri Perdagangan. Ironis, bukan? Jabatan yang seharusnya melindungi ekonomi rakyat malah dipakai untuk menggarongnya. Lalu ada Charles Sitorus, mantan Direktur Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Tampaknya sangat berkembang, bukan dalam bisnis yang benar, tapi dalam seni menyelinapkan uang.

Yang lebih seru adalah pameran uang sitaan yang dilakukan Kejagung. Tumpukan uang ini ditampilkan ke publik seperti sedang menggelar bazar barang antik. Barisan rapi gepokan duit di meja panjang itu mungkin bisa mengalahkan pemandangan di rumah sultan. Warganet yang melihat pun bertanya-tanya, bagaimana rasanya punya uang sebanyak itu? Sayangnya, untuk mendapatkannya, mereka harus mengikuti “workshop” korupsi tingkat dewa dulu, yang ujung-ujungnya berakhir di penjara.

Baca Juga :  Soroti Tambak Ilegal, Presedium ITK Sumbawa Sebut KPK Terlalu Lunak, Kerugian Negara Triliunan

Bayangkan kalau uang ini dikembalikan ke masyarakat. Kita bisa dapat subsidi gula murah seumur hidup, bisa bikin festival teh manis terbesar di dunia, atau kalau mau lebih bermanfaat, membangun sekolah-sekolah baru agar generasi mendatang lebih pintar dan tidak tumbuh menjadi koruptor.

Sayangnya, uang ini sudah sempat singgah di tangan-tangan yang salah. Ini membuat kita kembali bertanya-tanya, apakah ini akan jadi kasus yang benar-benar tuntas, atau hanya jadi tontonan sementara sebelum para pelaku bebas dan kembali menikmati hidup mewah mereka?

Baca Juga :  Dewan Malu Sampai Lepas Lencana

Satu hal yang pasti, Kejagung sedang sibuk. Kalau ini adalah ajang pencarian bakat, mereka bisa dibilang sedang menyeleksi siapa “koruptor terbaik” tahun ini. Kita sebagai rakyat hanya bisa menonton, berharap, dan berdoa, semoga mereka yang tertangkap benar-benar diproses, bukan sekadar masuk penjara beberapa tahun lalu kembali menikmati uang hasil rampokan dengan santai. Karena kalau ini terus berulang, kita hanya bisa bilang, selamat datang di Indonesia, di mana korupsi adalah drama tanpa akhir, dan episode barunya selalu lebih mengejutkan dari yang sebelumnya.

Apakah ini pengalihan isu soal pagar laut, retret, Hasto vs KPK, Danantara, Indonesia Gelap, tak tahulah wak. Negeri saya, negeri ente, negeri kita selalu ada isu baru yang membuat kita betah ngopi di warkop.

#camanewak

Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar

Berita Terkait

Satu Penumpang Dinyatakan Meninggal, KMP Putri Yasmin Terbakar Diperairan Sekotong 
Integrasi Data dan Kepastian Waktu, ATR/BPN Pangkas Celah Penyalahgunaan Sertifikat
Kualitas SDM Prioritas ATR/BPN saat Buka Ujian PPAT 2026 dengan 7.886 Pendaftar
Presedium FPII : Labeli “Londo Ireng Pada Insan Pers”, Membuka Fakta Bahwa Prabowo Negarawan Tak Berbobot
Sebut wartawan Londo Ireng, PWO IN Anggap Prabowo Ngomongan Orang Keblinger
Usai Geledah Kantor Bupati Lombok Barat, Tim KPK Datangi Dinas PUPR dan Pendopo Bupati
Nusron Minta Layanan Pertanahan Lebih Mudah dan Cepat, Janji Bangun Kepercayaan Publik
78 Pejabat Baru BPN Siap Ditarik Rotasi Wilayah dan Jabatan untuk Percepat Reformasi SDM
Berita ini 404 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:39 WIB

Satu Penumpang Dinyatakan Meninggal, KMP Putri Yasmin Terbakar Diperairan Sekotong 

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:45 WIB

Integrasi Data dan Kepastian Waktu, ATR/BPN Pangkas Celah Penyalahgunaan Sertifikat

Selasa, 4 Agustus 2026 - 08:39 WIB

Kualitas SDM Prioritas ATR/BPN saat Buka Ujian PPAT 2026 dengan 7.886 Pendaftar

Minggu, 26 Juli 2026 - 07:29 WIB

Presedium FPII : Labeli “Londo Ireng Pada Insan Pers”, Membuka Fakta Bahwa Prabowo Negarawan Tak Berbobot

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:50 WIB

Sebut wartawan Londo Ireng, PWO IN Anggap Prabowo Ngomongan Orang Keblinger

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:56 WIB

Usai Geledah Kantor Bupati Lombok Barat, Tim KPK Datangi Dinas PUPR dan Pendopo Bupati

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:07 WIB

Nusron Minta Layanan Pertanahan Lebih Mudah dan Cepat, Janji Bangun Kepercayaan Publik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 21:59 WIB

78 Pejabat Baru BPN Siap Ditarik Rotasi Wilayah dan Jabatan untuk Percepat Reformasi SDM

Berita Terbaru