TAMBANG : Simbol Tamaknya Oliqarqi, Kebodohan Penguasa Mempersempit Peluang Rakyat Untuk Pintar

- Jurnalis

Selasa, 14 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumbawa – Di Selatan Sumbawa, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) bersiap membuka Blok Elang–Dodo–Rinti. Seolah tambang Batu Hijau yang sudah menganga belum cukup, konsesi baru ini diproyeksikan menyimpan cadangan tembaga dan emas jutaan ton. Namun setiap gram logam yang terangkat dari kedalaman selalu punya harga yang tak tertulis—harga yang sering kali dibayar dengan hutan yang gundul, sungai yang keruh, dan tanah yang kehilangan daya hidupnya.

Jika kita membaca sejarah seperti dibedah Jared Diamond dalam Collapse, nasib peradaban sering diputuskan oleh satu keputusan sederhana: bagaimana mereka memperlakukan lingkungannya. Bangsa Viking di Greenland gagal karena membabat habis hutan untuk memanaskan besi dan membangun kapal, sementara masyarakat Pulau Tikopia di Pasifik bertahan karena dengan sadar membatasi populasi dan menebang pohon sesuai kemampuan pulih alam. Sumbawa kini berada di simpang jalan yang sama.
Di Batu Hijau, AMNT sudah meninggalkan jejak yang bisa kita ukur. Pembuangan limbah tambang ke laut dalam (Deep Sea Tailings Placement/DSTP) tercatat mencapai jutaan ton per tahun.

Baca Juga :  Skor PISA Indonesia Stagnan selama 20 Tahun, Apa yang Harus Kita Benahi ?

Meski diklaim “aman”, penelitian independen menunjukkan peningkatan logam berat di sedimen Teluk Senunu dan menurunnya keanekaragaman biota laut. Hutan di sekitar tambang menyusut, dan aliran sungai kecil yang dahulu jernih kini musiman, penuh endapan lumpur. Jika pola ini berulang di Blok Elang–Dodo–Rinti—wilayah berhutan lebat dan menjadi tangkapan air utama bagi desa-desa sekitar—kerusakan ekologis hanya soal waktu.

Ironisnya, publik tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dikerjakan AMNT. Detail studi kelayakan (DFS) jarang diumumkan, konsultasi publik sering formalitas, dan informasi teknis cenderung terkunci di balik pintu rapat berpendingin udara. Kita diminta percaya pada jargon “teknologi ramah lingkungan” sambil menutup mata pada risiko nyata di lapangan.

Ini mengingatkan kita pada kisah dalam Guns, Germs, and Steel tentang bagaimana segelintir kekuatan teknologi bisa menguasai sumber daya dan membungkam suara masyarakat lokal—bukan karena masyarakat itu bodoh, tetapi karena akses pengetahuan sengaja dipersempit.

Dalam The World Until Yesterday, Diamond menggambarkan bagaimana masyarakat tradisional memiliki kearifan menjaga ekosistem: hutan dianggap kerabat, sungai adalah bagian dari tubuh. Jika prinsip ini dilupakan, kita akan membayar mahal. Seperti pepatah kuno yang berbunyi, “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah kita sadar bahwa kita tidak bisa memakan uang.”

Baca Juga :  Orang Sasak Menginginkan Gubernur, Bukan Wakil, Titik!

Sumbawa kini berhadapan dengan pepatah itu, bukan sekadar kata-kata.
Pertanyaannya sederhana tapi mendesak: apakah kita akan mengulang kesalahan peradaban yang runtuh karena keserakahan, atau memilih jalan yang lebih bijak dengan menuntut transparansi, tata kelola yang ketat, dan keberpihakan pada daya dukung alam? Pilihan ini bukan sekadar milik pemerintah atau korporasi. Ini adalah ujian bagi seluruh masyarakat Sumbawa—apakah kita akan mewariskan tanah yang subur untuk anak cucu, atau sekadar meninggalkan lubang menganga yang mengilap sesaat tapi mematikan selamanya.

sumber :  Abdul Haji Sap

Ketua Presedium ITK Sumbawa

Berita Terkait

Kantor Pertanahan Lombok Timur Serahkan 42 Sertipikat Elektronik ke Warga Desa Pemongkong
1,5 Miliar APBD Lotim untuk Kandang Ayam Petelur di Labuhan Haji, Mulai Produksi Akhir 2026
Perangi Kemiskinan: Baznas dan Pemkab Lotim Serahkan 25 Rumah Mahyani, 24 Paket RLH, plus 20 Gerobak Z-Kuliner
Inspektorat Lotim Terbitkan 4 Surat Penugasan Audit Khusus Desa di Awal 2026
Masyarakat Nelayan Dan Pelaku Wisata Bahari Sekotong, Desak Tutup PT Sino Indo Mutiara Ditutup
Kantah Lotim Tutup 2025 dengan Prestasi PTSL 100 Persen, Siap Sasar Desa Baru di 2026
75 Warga Lotim Dideportasi Malaysia: Bahaya Jalur Ilegal Terbukti
Samsat Rinjani Selong Lampaui Target PKB, Lombok Timur Kantongi Rp83 Miliar 
Berita ini 88 kali dibaca
TAMBANG : Simbol Tamaknya Oliqarqi, Kebodohan Penguasa Mempersempit Peluang Rakyat Untuk Pintar

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 11:09 WIB

Kantor Pertanahan Lombok Timur Serahkan 42 Sertipikat Elektronik ke Warga Desa Pemongkong

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:05 WIB

1,5 Miliar APBD Lotim untuk Kandang Ayam Petelur di Labuhan Haji, Mulai Produksi Akhir 2026

Kamis, 8 Januari 2026 - 18:09 WIB

Perangi Kemiskinan: Baznas dan Pemkab Lotim Serahkan 25 Rumah Mahyani, 24 Paket RLH, plus 20 Gerobak Z-Kuliner

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:54 WIB

Inspektorat Lotim Terbitkan 4 Surat Penugasan Audit Khusus Desa di Awal 2026

Rabu, 7 Januari 2026 - 20:28 WIB

Masyarakat Nelayan Dan Pelaku Wisata Bahari Sekotong, Desak Tutup PT Sino Indo Mutiara Ditutup

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:16 WIB

Kantah Lotim Tutup 2025 dengan Prestasi PTSL 100 Persen, Siap Sasar Desa Baru di 2026

Selasa, 30 Desember 2025 - 12:41 WIB

75 Warga Lotim Dideportasi Malaysia: Bahaya Jalur Ilegal Terbukti

Senin, 29 Desember 2025 - 13:08 WIB

Samsat Rinjani Selong Lampaui Target PKB, Lombok Timur Kantongi Rp83 Miliar 

Berita Terbaru