Tan Malaka: Jalan Sunyi Seorang Pahlawan

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

harianlombok.com – Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi.”

Tan Malaka, Hong Kong, Desember 1932

la dilahirkan sebagai anak dari bangsa jajahan. Seorang pribumi dari Minangkabau, dengan nama kecil Ibrahim, yang sejak mula sudah akrab dengan sunyi. Tapi dari kesunyian itu tumbuh keberanian -keberanian untuk berpikir. la mengaji sejak bocah, menyusuri ayat-ayat Allah di surau, sebelum akhirnya menapaki sekolah Belanda dan mencuri ilmu dari sistem yang menindas bangsanya. Kalau kamu bisa membayangkan sehebat apa seorang anak pribumi hingga sebuah sistem penjajah mengizinkannya masuk ke pusat ilmu mereka-maka kamu akan tahu, Tan Malaka bukan hanya pandai, tapi mustahil diabaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

la tak punya warisan kecuali semangat. Maka kampung halamannya mengumpulkan iuran, dan guru Belandanya meminjamkan uang agar anak muda ini bisa berlayar ke negeri penjajah. Tapi Tan tak pernah betah berlama-lama dalam peluk dunia Barat. Di Belanda, ia memang menyelami Marxisme dan revolusi, tapi ia tetap menyebut dirinya Muslim, tetap membawa cara berpikir Timur yang penuh nurani. Bahkan saat bicara di forum Komintern di Moskwa, ia menyampaikan bahwa pergerakan Islam adalah kekuatan besar yang tak bisa diabaikan dalam revolusi Asia. la tidak menyebut nama Allah secara literal, mungkin. Tapi semangat Islam-tentang keadilan, pembebasan, dan perjuangan umat tertindas-mengalir dalam tiap gagasannya.

Baca Juga :  Teliti Kejanggalan Realisasi Pokir Dana Hibah Yayasan, ALPA NTB Lapor Ke Kejati NTB

Lalu dimulailah pelariannya yang panjang-dari satu negara ke negara lain, dari Manila ke Shanghai, dari Singapura ke Bangkok, dari penjara satu ke yang lain. la punya banyak nama samaran, tapi tak pernah punya rumah. la tidur di pelabuhan, di loteng, di hotel murah. Dan buku-buku… buku adalah satu-satunya cinta sejatinya yang selalu setia. Namun cinta itu pun harus ia korbankan. Dalam sebuah pelarian, ia terpaksa membuang naskah-naskah tulisannya ke laut -buku-buku yang ia tulis dengan air mata, darah, dan keyakinan. la berdiri di pinggir kapal, memeluk erat tulisan-tulisannya, sebelum akhirnya melepaskannya ke gelombang. Bayangkan luka macam apa yang harus ditanggung seorang penulis ketika membuang buah pikirannya sendiri, hanya agar tetap hidup.

Baca Juga :  Kekuatan Besar Ingin Jegal Pencalonan Sukiman Azmy

Tak banyak yang tahu apakah Tan Malaka pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Tak ada kisah asmara besar dalam hidupnya. Mungkin ia pernah memendam perasaan, mungkin pernah berbisik pada bulan atau pada buku harian yang kini hilang entah ke mana. Tapi barangkali cinta terbesar Tan adalah untuk tanah airnya-cinta yang tak menuntut balasan. Cinta yang sabar, getir, dan tragis. Sebab ia mati tanpa peluk. Tertembak tanpa pengadilan. Terkubur tanpa nama. la pergi dalam diam, ditelan negerinya sendiri, yang kala itu buta oleh dendam dan takut pada kebenaran.

Baca Juga :  Terseret Ombak Pantai Batu Dagong Pemancing Loteng Dalam Pencarian Tim SAR

Kini, setelah ia tiada, bangsa ini mulai menyebut namanya. Sebagian mulai membaca Madilog, sebagian lagi mengutip kata-katanya. Tapi mungkinkah kita benar-benar mencintai seseorang yang dulu kita bunuh karena ia terlalu jujur? Tan Malaka adalah pahlawan dalam sunyi. Dan dari dalam kubur, seperti katanya sendiri, suaranya terus memanggil kita dengan lembut, dengan luka, dengan nyala yang tak bisa padam.

Sumber Referensi:

Tan Malaka. Madilog (1943) Tan Malaka. Dari Penjara ke Penjara Harry A. Poeze. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Benedict Anderson. Revoloesi Pemoeda Tempo. Tan Malaka: Mati di Tangan Bangsanya Sendiri Historia.id, “Tan Malaka dan

Komintern”#sejarah #tanmalaka

Berita Terkait

Meski Diwarnai Dinamika, Garda Satu NTB Apresiasi Penyelenggaraan Porprov 2026 ‎
78 Pejabat Baru BPN Siap Ditarik Rotasi Wilayah dan Jabatan untuk Percepat Reformasi SDM
Kapal Wisata Tenggelam di Perairan Tanjung Katupa, 45 Orang Penumpang Selamat
Tegas, TGH. Muhlis Ibrahim Berikan Deadline  3×24 Jam Kepada TV One Untuk Datang Minta Maaf
Tayangan Berita Tv One Di Protes Keras Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddin
Bidang Pengairan PUPR Lotim Bakal Kerjakan  Ratusan Titik Irigasi dan Sumur Bor, Ditengah Efisiensi Anggaran 
Kementerian ATR/BPN dan DPR Bahas RUU Administrasi Pertanahan
Korban Hipotermia di Bukit Savana Dandaun Di Evakuasi Tim SAR 
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:02 WIB

Meski Diwarnai Dinamika, Garda Satu NTB Apresiasi Penyelenggaraan Porprov 2026 ‎

Sabtu, 18 Juli 2026 - 21:59 WIB

78 Pejabat Baru BPN Siap Ditarik Rotasi Wilayah dan Jabatan untuk Percepat Reformasi SDM

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:31 WIB

Kapal Wisata Tenggelam di Perairan Tanjung Katupa, 45 Orang Penumpang Selamat

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:11 WIB

Tegas, TGH. Muhlis Ibrahim Berikan Deadline  3×24 Jam Kepada TV One Untuk Datang Minta Maaf

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:53 WIB

Bidang Pengairan PUPR Lotim Bakal Kerjakan  Ratusan Titik Irigasi dan Sumur Bor, Ditengah Efisiensi Anggaran 

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:16 WIB

Kementerian ATR/BPN dan DPR Bahas RUU Administrasi Pertanahan

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:37 WIB

Korban Hipotermia di Bukit Savana Dandaun Di Evakuasi Tim SAR 

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:01 WIB

Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 diterima, Pemda Lombok Timur Janji Tindaklanjuti Rekomendasi DPRD 

Berita Terbaru